Langsung ke konten utama

Mata Rajawali

Mata rajawali kepekaan visual yang tajam dari atas langit member inspirasi kepada kehidupan kita, tentang sikap kita terhadap perubahan, kerendahan hati dan sikap peduli, yang harus selalu di pelihara, meskipun kita berada di atas keberhasilan. Kesuksesan seseorang untuk meraih jabatan hingga berada di posisi puncak sekalipun, bukan hasil kerja individu, tetapi banyak tangan2 yang membantu, banyak jiwa2 yang mungkin terabaikan, dan itu berasal dari orang2 di sekitar kita. Belajar untk lebih peka terhadap orang2 di sekeliling kita, memberikan ketenangan dalam berusaha. Dalam jiwa yang tenang, maka pikiran dan hati kita menjadi lebih jernih untuk mengambil keputusan. Ketenangan membawa kita mampu mencerna lebih jauh, mendalami, sekaligus melahirkan ketajaman dalam membaca situasi. Ketenangan batin, jiwa dan pikiran adalah muara dari perilaku yang baik untuk menjadi kita manusia2 yang berbudi bagi kehidupan banyak orang .....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Condromowo

Eyang Srigati adalah Priyagung, begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunken Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua ada darah-darah Srigati. Beliau adalah keturunan Nabi Adam ke-8. Yang konon pernah duduk di Alas Ketonggo yang sekarang dikenal dengan Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kec. Paron Ngawi. Punden Srigati dulunya juga Tipak tilas Syeh Domba, Sunan Lawu, dan Sunan Kalijaga. Sunan Lawu (Kertabumi Brawijaya) adalah putra dari Raden Fatah _bin Raden Bathoro Katong _bin Sunan Tembayat SILSILAHEYANG SRIGATI. Eyang Srigati adalah Putra dari: ~ Eyang Wisnu _bin ~ Sang Yang Guru ~ Sang yang Tunggal ~ Sang Yang Wening ~ Sang yang Wenang ~ Sang Yang Nurroso _bin ~ Sang yang Nur Cahyo dan Nur Cahyo adalah Putra NABI ADAM.a.s. Dan itu mungkin terjadi kodrat ILLAHInabi Adam yang waktu itu di turunkan Allah di benua hindia pertama kali dan Siti Hawadi daerah Yordan setelah bertemu dan menjad...

Mengetahui Diri Sendiri

  Ada satu informasi sangat menarik yang saya temukan dari kitab Malakutillah ma'a Asmâillah.  Metodenya memakai angka abjad atau nilai numerik dalam ilmu gematria Arab (hisab al-jummal).  Dalam tradisi pesantren, hitungan tersebut lebih dikenal dengan istilah “rumus abajadun”.  Seperti kita tahu, dalam “rumus abajadun”, setiap huruf memiliki nilai atau angka yang berbeda-beda, misal (alif)= 1, (ba')= 2, (jim)=3, (dal)=4, dan seterusnya.  Kata atau kalimat yang tersusun dari beberapa huruf yang akan dinilai dari hasil penjumlahan huruf yang menyusun.  Nilai numerik ini juga kerap dipakai dalam tradisi sufi untuk menghitung bilangan dzikir tertentu.  Misal,  kenapa “ya lathif” (لطيف) dibaca 129 kali?  karena nilai huruf masing-masing yang dijumlahkan 129.  Begitupula wirid yang dibaca 450 x karena menyesuaikan dengan nilai masing-masing huruf yang dijumlahkan dengan yang lain.  Lantas bagaimana menghitung nama yang disesuaikan dengan...