Langsung ke konten utama

Silsilah Condromowo

Eyang Srigati adalah Priyagung, begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunken Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua ada darah-darah Srigati.
Beliau adalah keturunan Nabi Adam ke-8. Yang konon pernah duduk di Alas Ketonggo yang sekarang dikenal dengan Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kec. Paron Ngawi. Punden Srigati dulunya juga Tipak tilas Syeh Domba, Sunan Lawu, dan Sunan Kalijaga. Sunan Lawu (Kertabumi Brawijaya) adalah putra dari Raden Fatah _bin Raden Bathoro Katong _bin Sunan Tembayat
SILSILAHEYANG SRIGATI.
Eyang Srigati adalah Putra dari:
~ Eyang Wisnu _bin
~ Sang Yang Guru
~ Sang yang Tunggal
~ Sang Yang Wening
~ Sang yang Wenang
~ Sang Yang Nurroso _bin
~ Sang yang Nur Cahyo
dan Nur Cahyo adalah Putra
NABI ADAM.a.s.
Dan itu mungkin terjadi kodrat ILLAHInabi Adam yang waktu itu di turunkan Allah di benua hindia pertama kali dan Siti Hawadi daerah Yordan setelah bertemu dan menjadi satu mendapat kemurahan dari Allah bertemu di Hidatur Rohmah di Makah.
SUNANLAWU (raden kerta bumi) adalah putra dari :
~ raden Suruh (ratu Majalengka Jabar)_bin
~ raden Mundi wangi (raja pajajaran)_bin
~ Mundi sari (pajajaran)_bin
~ Lalian (pajajaran)_bin
~ Raujenggo (jenggolo)_bin
~ Tembok lembu ambi luhur (jenggolo)_bin
~ Resi Gentayu, Gentiawan _bin
~ Srimot punggung _bin
~ Suro jali
~ Tompo driyo
~ Citro sumo
~ Dermo kusumo wicitro
~ Gendroyono _bin
~ Joyo anijoyo
~ Joyo dermo
~ Hundayana
~ Pati gesik
~ Ongko wijoyo _bin
~ Arjuna _bin
~ Pandu (ratu Astina) _bin
~ Habiyasa
~ Pulosoro
~ raden Sahri
~ raden Sekutreng _bin
~ raden Sutopo
~ raden Monowoso
~ Margeni _bin
~ Eyang Gustri
dan Eyang Gustri adalah putra
EYANG SRIGATI.
Sumber: KH. Agus Abdul Hamid "CONDROMOWO"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengetahui Diri Sendiri

  Ada satu informasi sangat menarik yang saya temukan dari kitab Malakutillah ma'a Asmâillah.  Metodenya memakai angka abjad atau nilai numerik dalam ilmu gematria Arab (hisab al-jummal).  Dalam tradisi pesantren, hitungan tersebut lebih dikenal dengan istilah “rumus abajadun”.  Seperti kita tahu, dalam “rumus abajadun”, setiap huruf memiliki nilai atau angka yang berbeda-beda, misal (alif)= 1, (ba')= 2, (jim)=3, (dal)=4, dan seterusnya.  Kata atau kalimat yang tersusun dari beberapa huruf yang akan dinilai dari hasil penjumlahan huruf yang menyusun.  Nilai numerik ini juga kerap dipakai dalam tradisi sufi untuk menghitung bilangan dzikir tertentu.  Misal,  kenapa “ya lathif” (لطيف) dibaca 129 kali?  karena nilai huruf masing-masing yang dijumlahkan 129.  Begitupula wirid yang dibaca 450 x karena menyesuaikan dengan nilai masing-masing huruf yang dijumlahkan dengan yang lain.  Lantas bagaimana menghitung nama yang disesuaikan dengan...