Langsung ke konten utama

KOMPAS SYEH ABDULQODIR AL-JAILANI

Seorang bijak harus memahami
Sesungguhnya anugrah dari Allah bersih murni berkilau seperti mutiara
Tidak dapat dicari diraih, tetapi hadir sendiri
Bukan datang karena sebab dan bukan hilang karena akibat.
 

Berkata Syeikh Abdul Qadir Jailani sebagai suatu pedoman;
Jika kamu bertemu dengan orang alim yakinkan hatimu pasti dia lebih mulia berbanding aku.
Jika kamu bertemu dengan orang belum tahu yakinkan hatimu Dia orang belum tahu, dia melakukan maksiat kerana tidak tahu sedangkan aku melakukan maksiat dalam keadaan aku mengetahui.
Jika kamu bertemu orang maksiat, yakinkan hatimu Ia mungkin orang maksiat, namun aku tidak tahu apakah  penghujung hidupku. Mungkin ia mati dalam keadaan bertaubat dan taat sedangkan aku tidak tahu akhirku.  
Jika kamu bertemu dengan orang tua, yakinkan hatimu Sesungguhnya dia orang tua, pasti sudah banyak melakukan kebaikan ketimbang aku
Jika kamu bertemu orang muda, yakinkan hatimu. Dia masih muda, kesalahannya pasti lebih kurang berbanding aku


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Condromowo

Eyang Srigati adalah Priyagung, begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunken Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua ada darah-darah Srigati. Beliau adalah keturunan Nabi Adam ke-8. Yang konon pernah duduk di Alas Ketonggo yang sekarang dikenal dengan Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kec. Paron Ngawi. Punden Srigati dulunya juga Tipak tilas Syeh Domba, Sunan Lawu, dan Sunan Kalijaga. Sunan Lawu (Kertabumi Brawijaya) adalah putra dari Raden Fatah _bin Raden Bathoro Katong _bin Sunan Tembayat SILSILAHEYANG SRIGATI. Eyang Srigati adalah Putra dari: ~ Eyang Wisnu _bin ~ Sang Yang Guru ~ Sang yang Tunggal ~ Sang Yang Wening ~ Sang yang Wenang ~ Sang Yang Nurroso _bin ~ Sang yang Nur Cahyo dan Nur Cahyo adalah Putra NABI ADAM.a.s. Dan itu mungkin terjadi kodrat ILLAHInabi Adam yang waktu itu di turunkan Allah di benua hindia pertama kali dan Siti Hawadi daerah Yordan setelah bertemu dan menjad...

Mengetahui Diri Sendiri

  Ada satu informasi sangat menarik yang saya temukan dari kitab Malakutillah ma'a Asmâillah.  Metodenya memakai angka abjad atau nilai numerik dalam ilmu gematria Arab (hisab al-jummal).  Dalam tradisi pesantren, hitungan tersebut lebih dikenal dengan istilah “rumus abajadun”.  Seperti kita tahu, dalam “rumus abajadun”, setiap huruf memiliki nilai atau angka yang berbeda-beda, misal (alif)= 1, (ba')= 2, (jim)=3, (dal)=4, dan seterusnya.  Kata atau kalimat yang tersusun dari beberapa huruf yang akan dinilai dari hasil penjumlahan huruf yang menyusun.  Nilai numerik ini juga kerap dipakai dalam tradisi sufi untuk menghitung bilangan dzikir tertentu.  Misal,  kenapa “ya lathif” (لطيف) dibaca 129 kali?  karena nilai huruf masing-masing yang dijumlahkan 129.  Begitupula wirid yang dibaca 450 x karena menyesuaikan dengan nilai masing-masing huruf yang dijumlahkan dengan yang lain.  Lantas bagaimana menghitung nama yang disesuaikan dengan...