Langsung ke konten utama

Jalan Terus Untuk Lurus

Orang saleh mengucapkan  tunjukkan kami ke jalan yang lurus dalam shalatnya untuk meneguhkan yang telah sampai dan menunjukkan yang belum dicapai. Mereka telah mencapai dan menetapi kesalehan. Namun, mereka belum mencapai tingkatan syuhada.  
Para syuhada mengucapkan  tunjukkan kami ke jalan yang lurus  dengan meneguhkan yang telah sampai dan menunjukkan yang belum dicapai. Mereka telah mencapai tingkatan syuhada. Tetapi mereka belum mencapai tingkatan shiddiqin.  
Kaum shiddiqin mengucapkan,  tunjukkan kami ke jalan yang lurus,  yakni dengan meneguhkan yang telah sampai dan menunjukkan yang belum dicapai. Mereka telah mencapai tingkatan shiddiqin. Namun mereka belum mencapai tingkatan quthb. 
 Para wali quthb mengucapkan,  tunjukkan kami ke jalan yang lurus,  yakni dengan meneguhkan yang telah sampai dan menunjukkan yang belum dicapai. Mereka telah mencapai tingkatan quthb. Tetapi mereka belum mendapat ilmu yang, jika Allah berkehendak untuk memperlihatkannya, niscaya Dia memperli-hatkannya 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Condromowo

Eyang Srigati adalah Priyagung, begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunken Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua ada darah-darah Srigati. Beliau adalah keturunan Nabi Adam ke-8. Yang konon pernah duduk di Alas Ketonggo yang sekarang dikenal dengan Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kec. Paron Ngawi. Punden Srigati dulunya juga Tipak tilas Syeh Domba, Sunan Lawu, dan Sunan Kalijaga. Sunan Lawu (Kertabumi Brawijaya) adalah putra dari Raden Fatah _bin Raden Bathoro Katong _bin Sunan Tembayat SILSILAHEYANG SRIGATI. Eyang Srigati adalah Putra dari: ~ Eyang Wisnu _bin ~ Sang Yang Guru ~ Sang yang Tunggal ~ Sang Yang Wening ~ Sang yang Wenang ~ Sang Yang Nurroso _bin ~ Sang yang Nur Cahyo dan Nur Cahyo adalah Putra NABI ADAM.a.s. Dan itu mungkin terjadi kodrat ILLAHInabi Adam yang waktu itu di turunkan Allah di benua hindia pertama kali dan Siti Hawadi daerah Yordan setelah bertemu dan menjad...

Mengetahui Diri Sendiri

  Ada satu informasi sangat menarik yang saya temukan dari kitab Malakutillah ma'a Asmâillah.  Metodenya memakai angka abjad atau nilai numerik dalam ilmu gematria Arab (hisab al-jummal).  Dalam tradisi pesantren, hitungan tersebut lebih dikenal dengan istilah “rumus abajadun”.  Seperti kita tahu, dalam “rumus abajadun”, setiap huruf memiliki nilai atau angka yang berbeda-beda, misal (alif)= 1, (ba')= 2, (jim)=3, (dal)=4, dan seterusnya.  Kata atau kalimat yang tersusun dari beberapa huruf yang akan dinilai dari hasil penjumlahan huruf yang menyusun.  Nilai numerik ini juga kerap dipakai dalam tradisi sufi untuk menghitung bilangan dzikir tertentu.  Misal,  kenapa “ya lathif” (لطيف) dibaca 129 kali?  karena nilai huruf masing-masing yang dijumlahkan 129.  Begitupula wirid yang dibaca 450 x karena menyesuaikan dengan nilai masing-masing huruf yang dijumlahkan dengan yang lain.  Lantas bagaimana menghitung nama yang disesuaikan dengan...