Langsung ke konten utama

Khobbaab bin Al-Art

(Shahabat wafat pada tahun 37 H. dalam usia 73 tahun) Penuh Derita di Jalan Allah

Ia masuk Islam sebelum Rasulullah membina para shahabatnya di Darul Arqam. Ia orang ke enam yang masuk Islam.
Thariq bin Syihab menjelaskan bahwa suatu ketika serombongan shahabat Nabi SAW datang kepada Khobbaab, sambil berkata : "Bergembiralah hai Abu Abdullah. Sambutlah ikhwan (saudara) mu besok!". Tiba-tiba ia menangis dan berkata, "Saya menangis bukan karena sedih, tetapi karena kalian telah
menyebutkan suatu kaum yang kalian namakan/anggap sebagai saudara sendiri. Mereka telah berlalu dengan memperoleh ganjaran masing-masing. Aku khawatir kalau-kalau tidak akan tersisa amal (yang membuahkan pahala) setelah mereka." (maksudnya, para shahabat adalah orang-orang yang rajin beramal shaleh, sampai-sampai Khobbaab khwatir tidak ada lagi amal shalwh yang tersisa buatnya, wallahu a'lam).

Qais bin Abi Hazim berkata, "Kami datang menjenguk Khobbaab r.a. Pada perutnya terdapat 7 luka bakar. Ia berkata, 'Seandainya Rasulullah SAW tidak mencegah kita untuk mengharapkan kematian, pastilah aku akan mengharapkan kematian tersebut. Sudah lama sakit yang saya derita ini".
Setelah itu kami datang dan melaporkan kepada Rasulullah SAW. Ketika itu ia sedang berselimutkan dengan sorban. Kami berkata, 'Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak meminta pertolongan kepada Allah?' Seketika itu wajah beliau memerah. Beliau berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian pernah ditangkap dan lalu kepalanya digergaji, sehingga terbelahlah badannya menjadi dua bagian'. Namun semua itu tidak membuat mereka berpaling dari dien (agama) ini.

"Sungguh, Allah akan menyempurnakan / memenangkan agama ini sehingga seorang yang bepergian antara Shan'a (Yaman) dan Hadharal Maut tidak takut sesuatupun kecuali kepada Allah, dan srigala yang bakal memakan dombanya." (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Ikrah).
Thariq bin Syihab menjelaskan bahwa Khobbaab r.a. merupakan salah seorang Muhajirin (yang berhijrah) pertama, dan termasuk orang yang disiksa karena (memperjuangkan agam) Allah SWT.
Riwayat dari Asy-Sya'bi mejelaskan, bahwa suatu saat Umar bin Al-Khattab r.a. bertanya kepada Khobbaab r.a. tentang pengalamannya melawan orang-orang Musyrik. Khobbaab menjawab, 'Wahai Amirul Mukminin, lihatlah punggungku ini.'

Umar berkata, 'Saya tidak pernah melihat seperti yang saya lihat hari ini'. Khobbaab r.a. berkata, 'Nyalakan api untukku yang tidak akan padam kecuali setelah tertindih punggungku.' (maksudnya untuk mengobati rasa sakitnya).
Beliau adalah shahabat yang pertama kali dikebumikan di Kufah.
(Disarikan dari Shifatu Ash-Shofwah, 1223-224)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Condromowo

Eyang Srigati adalah Priyagung, begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunken Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua ada darah-darah Srigati. Beliau adalah keturunan Nabi Adam ke-8. Yang konon pernah duduk di Alas Ketonggo yang sekarang dikenal dengan Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kec. Paron Ngawi. Punden Srigati dulunya juga Tipak tilas Syeh Domba, Sunan Lawu, dan Sunan Kalijaga. Sunan Lawu (Kertabumi Brawijaya) adalah putra dari Raden Fatah _bin Raden Bathoro Katong _bin Sunan Tembayat SILSILAHEYANG SRIGATI. Eyang Srigati adalah Putra dari: ~ Eyang Wisnu _bin ~ Sang Yang Guru ~ Sang yang Tunggal ~ Sang Yang Wening ~ Sang yang Wenang ~ Sang Yang Nurroso _bin ~ Sang yang Nur Cahyo dan Nur Cahyo adalah Putra NABI ADAM.a.s. Dan itu mungkin terjadi kodrat ILLAHInabi Adam yang waktu itu di turunkan Allah di benua hindia pertama kali dan Siti Hawadi daerah Yordan setelah bertemu dan menjad...

Mengetahui Diri Sendiri

  Ada satu informasi sangat menarik yang saya temukan dari kitab Malakutillah ma'a Asmâillah.  Metodenya memakai angka abjad atau nilai numerik dalam ilmu gematria Arab (hisab al-jummal).  Dalam tradisi pesantren, hitungan tersebut lebih dikenal dengan istilah “rumus abajadun”.  Seperti kita tahu, dalam “rumus abajadun”, setiap huruf memiliki nilai atau angka yang berbeda-beda, misal (alif)= 1, (ba')= 2, (jim)=3, (dal)=4, dan seterusnya.  Kata atau kalimat yang tersusun dari beberapa huruf yang akan dinilai dari hasil penjumlahan huruf yang menyusun.  Nilai numerik ini juga kerap dipakai dalam tradisi sufi untuk menghitung bilangan dzikir tertentu.  Misal,  kenapa “ya lathif” (لطيف) dibaca 129 kali?  karena nilai huruf masing-masing yang dijumlahkan 129.  Begitupula wirid yang dibaca 450 x karena menyesuaikan dengan nilai masing-masing huruf yang dijumlahkan dengan yang lain.  Lantas bagaimana menghitung nama yang disesuaikan dengan...